Band-band musik di era tahun 2010-an ke bawah memang penuh dengan kejutan. Musik-musik yang dihadirkan cukup berpindah dari indie rock (?) atau alt. rock menuju pop melayu yang mendayu-dayu. Di antara banyaknya band-band baru pada akhir dekade 2000-an atau tahun 2010-an yang saya dengarkan (Kelompok Penerbang Roket, Barasuara), muncul nama Efek Rumah Kaca yang sudah saya tahu namanya dari musik yang muncul di postingan Instagram lewat lagu "Di Udara".
Empat hari sebelumnya, tanggal 13 Juni 2026, rilislah event musik Fistfest yang membawa banyak lineup pemusik dari Nusantara seperti Skandal, Alkateri, Sore ze Band, The Panturas, The Sigit, dan Rumahsakit. Salah satu dari lineup itu adalah Efek Rumah Kaca.
Pertama kali mendengarkan Efek Rumah Kaca secara full time/full length membuat saya merasa aneh. Saya cukup terkait dengan beberapa lagu yang sesuai dengan setlist-nya mereka; Sebelah Mata, Putih, Di Udara. Yang masih terngiang-ngiang di kepala saya adalah Desember. Yang menjadi favorit saya selain Desember ialah Insomnia, Melankolia, dan Tubuhmu Membiru... Tragis. Menurut saya, ERK adalah Barasuara versi yang jauh lebih aneh, unik, dan sulit dipahami.
Ketagihan mencicipi Barasuara ternyata juga berakibat sampai ke Efek Rumah Kaca. Saya puas melahap tiga buah album milik Efek Rumah Kaca, yaitu self-titled (Efek Rumah Kaca), Kamar Gelap, dan Sinestesia plus satu buah album milik band yang belum muncul lagi, Pandai Besi—aransemen berbeda membawa warna baru yang lebih indah.
Entah kenapa, ketika mendengarkan self-titled, saya pikir lagu-lagu Efek Rumah Kaca jauh lebih eksploratif dan punya banyak hal-hal sosial (tidak hanya politik ya); Di Udara, Sebelah Mata (yang ternyata jadi tribute bagi Novel Baswedan), Debu-Debu Berterbangan, Belanja Terus Sampai Mati, atau Cinta Melulu.
Ketika mulai mencicipi Kamar Gelap, saya merasa album ini sangatlah gelap dan depresif, seperti judul albumnya (yang sebenarnya mengisahkan soal kamar gelap untuk foto analog) namun tetap punya gaya khas ERK (kritik sosial); contohnya Tubuhmu Membiru... Tragis, Lagu Kesepian, Jangan Bakar Buku, Menjadi Indonesia, Laki-Laki Pemalu, Mosi Tidak Percaya.
Salah seorang teman yang begitu serius dan semangatnya menyanyi ketika ERK tampil, menyebut bahwa ERK punya gaya yang unik. Mereka bisa pop, bisa indie rock, bisa tiba-tiba menjadi seperti Radiohead pula. Sementara itu sahabat saya yang menonton ERK (mungkin juga) untuk pertama kalinya, menyebut bahwa basslines di lagu-lagu ERK (tampaknya Di Udara) cukup kencang dan groovy. Ia yang sedang mempelajari bass jadi senang akan lagu ERK. Namun, ia memilih The Sigit sebagai musik yang ia bawa pulang dari lineup musisi di Fistfest kemarin.
Ketika mendengarnya di tiga album mereka, memang saya merasa saya tidak tahu apa-apa, karena tidak begitu mengenal mereka (kecuali lewat mendengarkan podcast mereka dengan orang-orang yang banyak tersebar di Youtube). Saya merasa, saya harus mengenal mereka lebih dalam, sebab rasanya menjadi FOMO adalah sebuah dosa di masyarakat.
Suara Cholil Mahmud begitu menyeramkan/haunting. Ia mampu mencapai suara tinggi tanpa harus penuh effort. Saya juga senang mengetahui fakta bahwa ia senang membaca buku dan memang seorang cendekiawan. Tidak salah apabila mengidolakan dirinya (selain Iga Massardi yang menurut saya cerdas, baik dalam penulisan lirik/gaya bahasa, maupun ilmu dalam musik).
Saya pikir, mungkin ini saatnya meng-cover lagu-lagu ERK dalam bentuk shoegaze. Selain karena Cholil Mahmud yang sepengetahuan saya pernah mengidolakan Hans Sabarudin (?) yang bermain shoegaze (ini perlu diverifikasi ulang, sebab saya mengetahuinya lewat video ini, video interview singkat soal gear yang dipakai oleh Cholil dalam penampilannya). Pertama sekali mendengarkan ERK di event Fistfest kemarin, membuat saya berpikir bahwa ERK punya akar shoegaze di dalamnya. Mungkin... mungkin saja.
Setelah dipikir-pikir dan direnungi, ada perasaan bersalah ketika saya bermalas-malasan dan tidak berbuat apa-apa, malah memilih menonton konser—meski akhirnya mendengarkan ERK—padahal masyarakat masih ada yang kesusahan, kesulitan. Saya jadi ragu pada diri sendiri, apakah seorang pendengar perlu menurunkan pula sifat/gaya dari musik yang ia dengarkan?
Sebagai mahasiswa FISIP, rasanya membingungkan ketika menjadi seorang yang seharusnya peka dan vokal soal isu sosial, malah menjadi seorang yang memilih mendengarkan musik. Konsentrasi saya adalah jurnalistik, dan seharusnya saya punya kemampuan observasi yang baik, yang benar-benar peka dan tidak mungkin jika mengabaikan isu sosial, kemanapun saya pergi.
Ya, mungkin ini out of topic. Tapi, ERK cukup mengubah saya untuk mencoba jadi lebih vokal, atau setidaknya memercikkan sedikit perasaan untuk kembali belajar menulis lagu/musik. Pernah muncul ketika mendengar Oasis, .Feast (ketika awal 2026) dan The Panturas (pertengahan 2026), namun rasanya tidak lagi muncul, saya hanya bosan saja.
Pertama mendengarkan "Desember", saya merasa bahwa lagu ini memang adalah lagu terbaik dari ERK. Saya merasa bahwa "Desember" seolah menjadi penyambut dan penenang buat saya yang lahir pada bulan Desember. Seolah "Desember" adalah lullaby, lagu penenang untuk tidur yang lebih lelap dan indah; sebuah perasaan "dirayakan". Saya rasanya ingin sekali meng-cover lagu itu, tetapi belum ada kekuatan dan semangat.
Beberapa lagu ERK versi proto-Pandai Besi (yang saya dengarkan di sini) rasanya begitu melankolis. Ditambah, saya mengetik paragraf ini pada pukul 02.54 subuh, menambah perasaan overthinking yang pelan-pelan menggerogoti saya.
Entahlah, rasanya saya harus berhenti berbuat demikian, sebab ERK bisa tiba di puncak karena mereka yang mencoba dan berusaha, terus berbuat, mencipta, melakukan. Apa saja diambil, apa saja diterima. Juga karena mereka tidak takut. Mereka tidak merasa bahwa hal itu merupakan sebuah dosa.
"Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi
Di balik awan hitam
Semoga ada yang menerangi sisi gelap ini
Menanti seperti pelangi setia
Menunggu hujan reda"
— Desember, Efek Rumah Kaca (2007)
Komentar
Posting Komentar