Terlalu banyak hal yang ingin kuubah
Takkan kubiarkan kita diam terlalu lama
Ada ruang kosong yang ingin ku beri makna
Namun tak pernah berani kusampaikan
— Andai Saja, Lomba Sihir
Entah sudah berapa kali saya kembali bertolak ke Surakarta (alias Solo) sejak pertama kali diajak untuk kebaktian di sana (September 2024). Rasa-rasanya, Surakarta (mungkin lebih enak jika saya sebut dengan nama populernya; Solo) jadi sebuah destinasi untuk religi, bukan lagi sekadar untuk pelepas rasa sesak dari Yogyakarta.
Pernah suatu kali, saya berangkat bersama teman saya untuk menonton gig metal yang diberi nama "Rock in Solo". Pas sekali, saya nontonnya saat 2024 akhir (sekitar Desember). Pertama kali saya menonton konser (atau festival musik ya?), dan pertama kalinya keluar kota dengan teman saya.
Lalu, Solo menjadi destinasi religi buat saya—seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya—karena memang tujuan utama saya ke Solo bukan untuk bervakansi apalagi untuk kulineran. Belum pernah mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan (buat saya, Yogyakarta jauh lebih nikmat untuk kemana-mana. Mungkin karena saya belum tinggal/mencari sesuatu yang menarik di sana? Mungkin Pedal Monk—toko alat musik di Solo—bisa menjadi destinasi selanjutnya).
Saya ke Solo untuk mengikuti sembahyang Hari Lahir Nabi Kongzi/Kongchu (孔子), kemudian mengikuti judbio/acara arak-arakan rupang dewa mengelilingi suatu area. Mirip dengan pawai budaya, tapi yang ini adalah rupang dewa.
Saya sempat mengikuti dua kali judbio, yang pertama sekali di Malang, lalu yang kedua di Tegal. Pertama kalinya mengikuti judbio memang bikin hati rasanya lain. Orang-orang baru, pengalaman baru, dan foto-foto baru. Saya cukup senang mengikuti acara ini untuk pertama kalinya (selain karena memang di daerah asal saya sepertinya event sejenis sudah jarang sekali dilaksanakan).
Yang kedua kali di Tegal (tepatnya di Adiwerna) jauh lebih intim; tidak banyak rombongan yang ikut, tapi suasananya jauh lebih meriah dan bahagia buat saya. Saya tetap memegang peranan sebagai fotografer lepas yang masih magang. Saya sendiri sih senang, bisa ikut dalam judbio yang tak pernah saya bayangkan untuk ikuti. Bahkan diri saya yang masih duduk di SMA di tahun 2020 pasti takkan menyangka.
Jika acara di Malang untuk internasional (dengan demikian, akan banyak orang-orang dari berbagai daerah di ASEAN yang mampir untuk melaksanakan judbio, dan tentunya lebih ramai pula), maka acara di Adiwerna jauh lebih sedikit, namun tetap meriah (kurang lebih 25 peserta dari Jawa Barat saja sampai Jawa Timur, seingat saya). Buat saya, track di Adiwerna jauh lebih panjang, namun menurut salah seorang teman saya, yang di Malang lebih panjang. Ah, itu tidak penting. Yang penting apa? Makan dan kulineran!
Saya jarang berangkat ke Solo yang berdua dengan teman. Mentok-mentok ya dengan salah seorang teman karib saya atau dengan bapak saya. Dengan teman karib saya untuk berkunjung dan bergabung di acara festival Rock in Solo. Isinya metal semua. Lumayan, saya dapat beberapa musisi baru untuk menempati playlist saya (yang sayangnya tidak bertahan lama).
Mungkin saya sudah pernah ceritakan di atas (dan saya malas jika harus mengecek lagi), bahwa saya pertama ke Solo pada sekitar September 2024, berkunjung ke Makin Solo untuk kebaktian yang ternyata di sana sedang ada sembahyang king hoo ping (敬和平; Jing He Ping), sejenis sembahyang untuk arwah umum. Di sana, saya disambut oleh teman-teman (atau sesepuh ya?) dari Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Solo, kemudian berkenalan dengan beberapa teman yang aktif di persoalan agama Khonghucu di Solo (tentu saja, saya bertemu dengan Ketua PAKIN. Se-Indonesia, jika tidak salah ingat).
Kemudian... Ah, persoalan judbio malah sudah saya ceritakan di awal. Ya... memang yang paling berkesan menurut saya adalah judbio. Bayangkan saja, seorang anak muda yang tinggal dekat laut di Kepulauan Riau jauh di sana, bukannya belajar agama dan ikut menggotong "tandu" dewa di tempatnya, namun malah di tempat orang. Dua kali pula! Tapi, biarlah. Toh, saya di Jawa. Memang... saya tak boleh glorifikasi Pulau Jawa, tapi saya senang bisa mampir ke Jawa.
Jujur, saya ketagihan dan tidak sabar untuk ikut lagi suatu waktu.
Apa yang bisa saya nikmati dari Solo selain suasananya (dan sadar bahwa UNS itu benar-benar menarik)? Tentu saja, makanannya. Meski saya tidak bisa kulineran sendiri, setidaknya... teman-teman Pemuda Agama Khonghucu Indonesia (PAKIN) Solo ada kebaikan hati untuk menawarkan makanan. Jadilah, saya suka dengan Selat Solo, lalu sempat pula mencoba mi Sumatra (?).
Terakhir sih, saat kebaktian bersama dan ziarah ke makam Haksu (Xs.) Tjhie Tjay Ing (7-8 Maret), saya bisa ke Karanganyar dan mencicipi sate kelinci. Meski harus kehujanan, tapi tidak apa-apa. Sehabis makan di Karanganyar, pulang ke Lithang Gerbang Kebajikan, istirahat dan diberikan mi Sumatra. Wah... terima kasih banyak teman-teman PAKIN Solo, meski saya belum akrab-akrab sekali....
Kembali lagi, saya ditawari untuk menginap saja di Solo, berhubung hari Senin (ya... di hari saya menulis ini sih, tanggal 9 Maret ya...) saya ke Solo lagi untuk kuliah di luar kelas; kita di mata kuliah Hukum dan Etika Media mampir ke Monumen Pers untuk belajar soal perkembangan dunia pers. Menarik sih, dan mungkin saya bisa saja memantapkan hati untuk membawa mesin tik ke kampus—namun mesin tik tentu saja berat—tapi... kayaknya mending bawa laptop saja deh.
Cerita selesai! Terima kasih sudah mau membaca... Jika saya ada yang ingin ditambah, saya lampirkan update di bawah. Terima kasih, sekali lagi!
Cerita ini ditulis dalam periode 9 Maret 2026 ketika masih dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta, dan ketika sudah pulang dari Solo pada 10 Maret 2026. Tulisan ini adalah sebuah apresiasi saya untuk Solo sekaligus mengubah keseluruhan blog ini menjadi sebuah tempat diari/jurnal, jika memang saya bisa aktif.
Komentar
Posting Komentar