Jadi, @lpmteraspers membuat sejenis program yang mengajak mahasiswa FISIP (?) untuk menulis cerpen, puisi, dan opini yang akan dimuat di majalah & website mereka. Saya sebagai penulis (yang cukup) menguasai ketiga-tiganya, mungkin hendak berencana menulis di ketiga-tiganya. Mungkin ini pilihan baik, mungkin ini benar? Saya rasa begitu. Anggaplah ini sebuah pembuktian bahwa saya bisa & mampu lebih dari saudara-saudara/sepupu-sepupu saya, yang di mana terkadang mereka lebih berprestasi, entah itu dari segi pendidikan, pekerjaan, atau soal hidup.
Tetapi, I feel so underrated, dalam hal yang buruk; saya tidak begitu menonjol jika ada acara keluarga besar bersama. Tidak dari pihak ibu, namun dari pihak ayah juga. Mungkin mereka berpendapat pendidikan adalah di atas segalanya, IPK 4, beasiswa, berbahasa asing (Mandarin, Inggris, memang penting soal bahasa, sih). Tapi, buat saya, ada hal penting lain: hobi, minat, dan kemampuan. Apa-lah yang lebih penting daripada kemampuan kita sebagai manusia. Di saat bekerja tidak akan ditanya: “Berapa nilai IPK Anda?”, atau “Seberapa pandai Anda di kelas?”. Tidak menutup kemungkinan pertanyaan itu akan ditawarkan juga.
Saya berpendapat bahwa saya bisa dan mampu lebih dari mereka yang sekadar belajar saja (ya memang ada yang bisa & mampu berbahasa/bekerja dengan baik, sih). Saya mampu fotografi, saya menguasai hal bermusik, dan saya bisa menulis. Kemampuan-kemampuan saya itu bukan sebuah bentuk narsisme. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya bisa, saya mampu, bukan hanya koko (abang) atau cece (kakak) saja yang mampu dan bisa memegang piala.
Sayang, saya punya minat menulis baru tumbuh kira-kira 2019 akhir ketika saya mengenal Soe Hok-gie. Hal itu tercermin dari tulisan saya yang sangat “berbahaya” pada waktu itu soal ketidakmampuan tanggapnya OSIS SMP dalam menyelesaikan masalah “siswa yang berantem”. Namun, karena tulisan itu terlalu “lebay”, saya merasa tulisan itu adalah tulisan untuk lucu-lucuan saja. Sekarang? Saya tidak lagi berani menulis tentang hal itu. Bukan sebuah hal yang baik.
Pada semasa SMA, saya kembali menulis beberapa hal, seperti tentang hedgehog dilemma, tentang mensontek (ya, itu adalah tulisan yang sesuai Ejaan Bahasa Indonesia dari kata menyontek), dan pipa wastafel yang langsung mengalir ke selokan dan membuat kotor sekolah (terutama di kelas saya, karena langsung berhadap dengan selokan). Tulisan-tulisan itu pernah mau saya pajang di majalah dinding SMA, dan sayangnya tidak pernah saya memajang soal artikel-artikel itu, karena saya masih malu-malu dan tidak berani.
Soal musik, saya sudah tumbuh dengan musik yang beragam, namun ketika April 2018, saya diberikan sebuah gitar klasik dan saya pelajari hingga akhirnya mempunyai gitar listrik sendiri. Sepupu saya (anaknya paman saya, adik dari ayah) punya? Tentu punya. Pernah pentas? Tentu saja pernah. Bagaimana dengan saya? Hanya pernah satu kali di perpisahan SMA dan sekali di pentas seni SMP. Yang SMA tidak begitu baik prosesnya dan yang di SMP sepertinya bisa dikatakan “memalukan”. Hal-hal seperti itulah yang membuat saya kadang dibandingkan, dan saya merasa, “Ini adalah pukulan yang berat.” Namun, sekarang saya anggap itu bara untuk memacu saya, bahwa “Seorang autodidak juga bisa setara dengan yang les gitar”.
Fotografi? Saya memang senang memotret, tetapi baru begitu intens ketika semester 2, saat dipinjamkan kamera oleh salah seorang teman saya. Itulah titik balik ketika saya teringat bahwa fotografi merupakan salah satu kemampuan saya. Sebelumnya, saya sudah punya kamera analog dan belajar foto dari sana. Sepertinya tidak ada satu orang pun saudara/sepupu saya yang punya kamera dan hobi memotret (?) dan itulah kelebihan saya. Adik saya tertular kelebihan itu.
Tetapi, saya tetap merasa kalah, entah apa yang membuat saya merasa kalah & ragu akan hal-hal yang saya lakukan. Saya merasa bahwa saya dipandang aneh atau dipandang berbeda. Meskipun menurut bapak saya, saya itu ada di generasi yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, dan cara didik yang berbeda. Menurut beliau juga, saya belum mengetahui usaha mereka untuk mencapai tahap "prestasi" itu, dan saya juga berprestasi meski tidak dalam bentuk akademik.
Saya merasa bahwa stereotip (KBBI: konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat) bahwa akademik di atas non-akademik masih begitu kuat di keluarga besar saya. Saya menilai, saya bukanlah seorang yang berakademis sekali, namun saya mampu dan bisa menciptakan karya-karya yang mungkin tidak satu dari mereka pun bisa. Pasti ada yang menilai ini sebuah bentuk narsisme, tapi saya anggap ini adalah kelebihan.
Sebagaimana lirik lagu I Hope, I Think, I Know – Oasis: The future is mine and it's no disgrace… 'Cause in the end the past means nothing… Atau Magic Pie – Oasis: But I'll have my way… In my own time… Masa depan itu milik saya sendiri, dan saya punya cara-cara saya sendiri di waktu saya sendiri.
Sayang seribu sayang, saya masih merasa takut dan tidak berani. Namun, saya tidak takut akan respon apapun yang akan diberikan koko atau cece saya. I'll have my way.
Fighting
BalasHapus🫡
HapusMengagumkan...
BalasHapusTerima kasih 🫡
Hapus