Musik yang Rupa-Rupa Jenisnya

Saya merasa saya selalu ter-influence oleh musik-musik dari barat. Dulu, kira-kira saat saya masih SD, saya selalu mendengarkan musik yang disetel oleh bapak saya, terutama musiknya Bon Jovi, Guns N' Roses, dan lain-lainnya yang dari Amerika. Favorit saya dulu yang utama adalah Bon Jovi, musik-musiknya yang rock bisa diterima oleh telinga saya. "It's My Life", "Livin' on a Prayer", "Always", dan banyak lagi deh. Thanks to Cross Road's album. Kalau soal Guns N' Roses, saya cuma tahu "Sweet Child O' Mine", sebelum akhirnya mengeksplor "Paradise City", "Knockin' On Heaven's Door", dan "Welcome To The Jungle". Dulu juga mendengarkan lagunya Eric Clapton yang judulnya "Wonderful Tonight" dan jadi favorit saya, dan "You're All I Need" dari White Lion. Saya rasa karena adanya pengaruh dari banyaknya CD yang dimiliki bapak saya, sehingga saya iseng mendengarkannya.

Lalu, saat saya di awal SMP, saya mulai mencicipi musik The Beatles, karena lagu "Yesterday", atau mungkin karena lagu "Twist and Shout" yang dipakai Milyhya, yah, sudah lama sekali rasanya. Saya mulailah mengeksplor musik-musik Inggris, dan tibalah saya di puncak musik saya waktu itu, kira-kira tahun 2018-2019, Queen! Saya tahu Queen karena waktu itu, saya suka sekali menonton YouTube, dan video Fluxcup (big thanks to him) muncul, sebuah video parodi Bohemian Rhapsody part operanya saja. Karena itu, saya jadi suka Queen dan mulai eksplor "Killer Queen" hingga "Innuendo". Sepertinya memang kehidupan musik saya berawal dari meme yang ada.

Tahun 2022, adalah sebuah titik balik dari dunia musik saya. Saya mulai cicip-cicip city pop atau yang dikenal dengan pop kreatif. Semua karena TikTok dan thanks to TikTok. Nah, saya cek di playlist Spotify saya, saya memasukkan lagu Oasis bertajuk "Don't Look Back in Anger" pada 20 November 2022, sementara saya yakin kalau saya tahu Oasis sejak 26 Maret 2023, tapi tidak apa-apa. Saya juga tahu "Wonderwall" di hari yang sama. 12 Agustus 2023, beberapa hari sebelum saya akan berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah, saya membuat playlist untuk Oasis yang sudah saya dengarkan selama seharian penuh, dan hasilnya adalah ini:

   1. Definitely Maybe: "Rock 'n' Roll Star", "Supersonic", "Whatever", dan "Live Forever".

   2. (What's The Story?) Morning Glory: "Morning Glory", "Roll with It".

   3. Be Here Now: "D'You Know What I Mean?", "Stand by Me", "All Around the World".

Banyak? Iya. Yang jadi favorit saya juga lagu "Morning Glory" karena menjadi awal mula kecintaan saya pada Oasis. Karena itu, saya jadi eksplor terus menerus lagu Oasis, menonton video Dosis Musik Harian tentang Oasis dan Liam Gallagher. Karena Oasis punya rival bernama blur, saya juga ikut-ikutan mendengarkan blur. Saya tahu lagu "Song 2", entah pernah dengar di mana. Lalu berlanjut ke "Sticks and Stones" dan "The Narcissist". Tiba-tiba saja, saya sudah suka dengan blur. Favorit saya ialah "Parklife", "Girls & Boys", dan "Country House". 

Oasis berawal dari The Stone Roses dan The Smiths, sepertinya. Karena itu, saya mendengarkan The Stone Roses setelah ada yang berkomentar di YouTube, mengatakan: Jika ada lagu "I Am the Resurrection", maka itu adalah saatnya Liam Gallagher naik panggung. Wow, langsung saya mendengarkan Stone Roses, dan begitulah rasanya. The Smiths karena sedang trennya lagu "There Is a Light That Never Goes Out", dan tahu-tahu saya sudah mengenal The Smiths sembari menonton video Dosis Musik Harian. Iya, saya mengenal The Stone Roses, The Smiths, my bloody valentine, juga karena dia. 

Saya coba mencicipi musik Radiohead, dan wow, ini sedikit rumit. Saya ganti ke Nirvana, saya jatuh cinta dengan album Bleach yang bernada keras sekali, bukan album Nevermind. Lalu saya berganti lagi ke shoegaze, karena penasaran dengan lagu "when you sleep". Wah, ini dreamy sekali ternyata. Akhirnya saya pun mengenal shoegaze lebih dalam lewat video Kaz. Ternyata saya tidak begitu cocok di shoegaze, akhirnya hanya sedikit yang saya dengarkan.

Kesimpulannya: musik saya sekarang mungkin akan lebih berfokus pada musik-musik dari Inggris, karena saya die-hard fans Oasis dan kebanyakan playlist saya sekarang juga berisi musik-musik Inggris. Saya juga mau belajar gitar karena Oasis, thanks Noel! Ya, itu saja, dan terima kasih sudah membaca.

Komentar