Jogja yang Tetap Istimewa

Mau bagaimana pun kondisinya, tetaplah istimewa Yogyakarta (saya lebih suka sebutan Jogjakarta) ini. Dari orang-orangnya, bahasanya, kulturnya, hingga makanannya. Untuk traffic-nya pun juga cenderung unik, tidak ada yang klakson-klakson atau sampai mengganggu telinga. Santai sekali. Membuat kaget, jujur saja. Saya terkesan akan hal itu.

Baru saja pulang dari menonton film "Srimulat: Hidup Memang Komedi". Teman yang menemani saya belum terlalu memahami komedinya. Saya juga, sebetulnya. Tapi, jika ada yang lucu, pasti saya tertawa. Filmnya bagus sekali, menggambarkan bagaimana wong ndeso (?) jika berada di ibukota sebagai artis. Saya kasih rating 10 dari 10, dan bisa kamu tonton di bioskop terdekat! (Kok kayak si Gerald Vincent?)

Saya menemukan cara baru untuk mendapatkan hati bapak agar mau membelikan motor buat saya. Bilang saja jika Anda ingin berkulineran ria dan menemukan tempat makan baru. Selesai. Soal makan pasti prioritas. Apa sih yang tidak buat makan? Hehehe. Pada akhirnya juga harus diskusi sama keluarga, apa yang terbaik buat saya, karena, "...harta yang paling berharga adalah keluarga." Anjay. Begitulah.

Semenjak saya tiba di Jogja, saya jadi agak sering belanja online, checkout setiap awal dan akhir bulan. Entah beli kaset atau beli apa saja. Saya yang awalnya cuma punya 4 kaset, sekarang ada setumpuk kaset. Saya jabarin saja di sini (biar memanjangkan tulisan ini).
  1. Oasis, ada album Definitely Maybe (1994), (What's the Story) Morning Glory? (1995), Be Here Now (1997), dan The Masterplan (1998). Rencana mau menambah satu album lagi, dari Heathen Chemistry (2002)
  2. Nirvana, album Bleach (1989), kaset pertama yang saya COD-kan.
  3. Dewa 19, album Bintang Lima (2000), kaset kedua yang saya COD-kan, kebetulan barengan kaset Nirvana juga.
  4. Hikaru Utada, album Distance (2001), kaset ketiga yang isinya lagu Jepang.
  5. Naoko Kawai, album Day Dream Coast (1984), kaset keempat yang isinya lagu Jepang, dan COD pertama dengan teman kampus saya.
  6. KLa Project, album Kedua (1990), kaset kedua berbahasa Indonesia yang saya COD dengan teman kampus yang sama juga.
  7. Soundtrack film GIE (2005), kaset soundtrack film pertama saya, kebetulan saya suka dengan filmnya. 
  8. The Everly Brothers, album The Very Best of The Everly Brothers (1964), kaset hasil belanja di Pasar Beringharjo.
  9. Modern Love 2, album kompilasi lagu-lagu cinta (2003), kaset hasil belanja (juga) di Pasar Beringharjo.
  10. F4, Fantasy 4ever (2002), kaset berbahasa Mandarin pertama saya, dan ini (lagi-lagi) juga hasil belanja di Pasar Beringharjo.
  11. Queen, Greatest Hits (1981), kaset hasil COD dengan teman kampus yang sama untuk kedua kalinya.
  12. Chrisye, Dekade (2002), (lagi-lagi) kaset hasil COD dengan teman kampus yang sama untuk kedua kalinya, dan ini adalah kaset ketiga yang berisi lagu berbahasa Indonesia.
  13. Air Supply, News from Nowhere (1995), kaset hasil COD dengan teman kampus yang sama untuk kedua kalinya (kalian pasti bosan), dan kaset kesekian yang berbahasa Inggris.
Sudah, habis. Itu saja. Total-total ya... ada 20 kaset. Wow. Ada empat kaset yang tidak saya masukkan, yaitu kaset Cerita Cinta (1994), kaset pertama. Lalu ada Country Sweet Songs (1993), dan dua kaset bootleg, Taeko Ohnuki di album Sunshower (1977) dan Tatsuro Yamashita di album SPACY (1977).

Oke, itu saja cerita-cerita saya. Jogja memang istimewa sekali dalam kisah hidup manusia Indonesia. Seperti lagu KLa Project, "Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu... nikmati bersama, suasana Jogja..."

Komentar