Selamat tahun baru 2023 yang terlambat. Sekolah sudah dimulai kembali pada tanggal 9 Januari 2023, dan rasa-rasanya liburan begitu cepat berlalu. Selama 4 hari bersekolah (dipotong libur satu hari karena ada kegiatan), saya menemukan banyak hal baru yang rasanya seru untuk dibahas. Salah satunya tentang guru, dan hubungan pertemanan. Mari kita bahas satu persatu, dari sudut pandang saya.
1. Guru yang Idealis, tetapi Berlebih
(Idealis, 1 orang yang bercita-cita tinggi; 2 pengikut aliran idealisme. Idealisme, 1 aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; 2 hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; 3 Sas aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.)
Saya menerjemahkan idealis sebagai seseorang yang menaruh pemikirannya di atas segalanya, dan orang itu bisa saya lihat dalam diri seorang guru di sekolah saya. Sempat di saat beliau mengajar, saya melihat bahwa guru ini hendak menunjukkan jika dirinya adalah yang paling benar dan tidak bisa diganggu gugat. Saya terkadang merasa menyesal tidak mencoba untuk membantah guru itu. Kenapa saya merasa menyesal? Karena ada suatu kondisi di mana apa yang bapak itu ucapkan tidak sesuai dengan apa yang sedang terjadi. Hal itulah yang menjadi dasar dari bagian 1 ini.
Jika guru ini bilang "ya", ada kemungkinan hal tersebut akan terus "ya". Saya mungkin belum bisa memahami pola pikir, atau mungkin saya masih polos soal pendidikan. Toh, saya hanya seorang murid yang jika berdebat dengan guru soal pelajaran akan kalah juga, karena saya tidak ahli. Namun, saya biasa meninjau sesuatu berdasarkan bagaimana seorang itu bertindak. Saya punya pendapat bahwa guru tersebut adalah tukang gosip dan tidak bisa diganggu gugat. Memang, sudah sepantasnya seorang idealis tidak bisa diganggu gugat, karena ide adalah yang utama, dan harus ideal. Tetapi, bagaimana dengan tukang gosip?
Perawakan beliau bisa dibilang seorang yang berusia 40 tahunan, dengan tubuh tinggi dan ramah ke semua orang. Tetapi, saya memandang beliau sebagai seorang yang agak... genit, mungkin. Juga dari sifatnya yang bisa dibilang cukup dekat ke siswi-siswi, namun saya memandang hal tersebut sebagai sebuah keabnormalan. Beliau juga sempat bertanya tentang guru yang tidak lagi punya koneksi dengan sekolah, serta menceritakan tentang guru yang sempat berkasus, di mana teman saya berkata, bahwa hal tersebut bisa dikatakan tidak baik, karena bercerita di depan murid-muridnya (di saat kelas). "Gurunya bisa dibilang ceplas-ceplos," begitu kata teman saya, sehingga terkesan terang-terangan.
Jika guru itu saya laporkan, akan ada
dua opsi yang muncul:
a. Guru
tersebut dipecat, dengan arti karier guru tersebut akan lenyap, keluarganya
akan kesulitan, dan rontoklah hidup mereka perlahan. Saya mengerti apa
akibatnya jika seorang dipecat dari pekerjaannya. Betapa besar impact-nya
terhadap hidup seseorang.
b. Saya yang
diskorsing, atau diberi hukuman. Tidak jauh berbeda dengan opsi a. Jika
saya yang diskorsing, ini akan menimbulkan kesulitan bagi saya dalam memproses
pendaftaran dunia perkuliahan kelak, dan saya akan merasakan sia-sianya
pendaftaran kuliah lebih awal.
Komentar
Posting Komentar