Trivia: mesin tik menurut KBBI, merupakan mesin penyusun huruf yang menggantikan cara menulis dengan tangan.
Begitu saya tiba di sekolah, saya langsung menaruh mesin tik di meja saya, dan tidak butuh waktu lama untuk menunggu meja saya dikerubungi beberapa teman-teman sekelas. Mereka begitu terkesan akan mesin tik saya—AEG Olympia Traveller de Luxe, produksi Yugoslavia. Ada yang bertanya-tanya bagaimana caranya agar kertasnya muncul tulisan, ada yang bertanya bagaimana cara kerjanya, bahkan ada yang bertanya, "Kenapa dipencet tidak keluar apa-apa?"
Saya sendiri juga sempat menulis beberapa hal di mesin tik itu selagi di sekolah, seperti Naskah Proklamasi, artikel pendek berjudul "Ketika Telepon Genggam Masih Menjadi Primadona", dan beberapa puisi karangan Soe Hok Gie. Sensasi mengetik di sekolah terasa berbeda saat mengetik di rumah. Mengetik di sekolah, ada sedikit rasa yang terkesan "unik". Saya cukup senang bisa membawa mesin tik ke sekolah.
Mesin tik adalah sebuah barang antik, dan saya juga barang antik—kata bapak saya—karena jarang-jarang ada orang seperti saya. Mesin tik ini tidak terlalu mahal, namun juga tidak terlalu murah—saya beli sekitar Rp200.000,- jika tidak salah. Barangnya masih terawat hingga sekarang, dan masih saya pakai hingga sekarang.
Kesimpulannya adalah, jikalau Anda punya sesuatu yang bisa membuat Anda terlihat berbeda pada tahun terakhir sekolah, buatlah diri Anda seunik mungkin. Contohnya ya, saya sendiri. Meski mencoba berbeda sendiri akan terasa tidak lazim dan aneh, serta ada kemungkinan diejek—jika rencana Anda gagal. Ya, segala hal yang menjadi keunikan masih bisa dicoba, selama tidak mengganggu Anda sendiri, orang lain, dan sekitar Anda.
Komentar
Posting Komentar