Melewati malam di atas kereta yang melaju kencang, rasanya begitu... membuat kangen.
Prolog: tanggal 1 Juli dan 2 Juli 2022, saya berada di Jogja. Waktu singkat ini, terasa begitu membekas hingga saya sudah kembali sekolah. Mungkin tulisan ini akan sedikit panjang, jadi, mari kita mulai dari tanggal 1.
Bab 1: 1 Juli 2022
Saya bangun pagi di tengah kereta yang sedang melaju. Jam 06.19 pagi, saya tiba di Stasiun Jogjakarta. Rasa lelah langsung hilang setelah 7 jam berada di kereta. Begitu membuka mata, saya dalam kondisi percaya tidak percaya. Jogja begitu luas, besar, dan ramai. "Ini baru di stasiun. Belum lagi di luar," pikir saya.
Saya disambut oleh teman bapak saya, lalu saya dibawa untuk membersihkan diri, kemudian lanjut makan nasi pecel sebagai sarapan pertama di Jogja. Rasanya? Wuenakkk! Makan nasi pecel pake teh manis panas, mantep! Masih kepengin nyoba kalau ke sana lagi. Setelah puas makan nasi pecel, mari kita lanjut ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - Universitas Gadjah Mada. Saya ke sana untuk bertanya seputar pendaftaran kuliah saya nanti. Begitu juga saat saya selesai di UGM. Saya lanjut ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik - Universitas Atma Jaya untuk mengambil brosur di sana—karena info lengkap ada di webnya—dan membacanya sampai tuntas.
Sehabis dari Atma Jaya, saya langsung berangkat ke Candi Prambanan. Beli tiket Candi Ratu Boko beserta Candi Prambanan, saya langsung naik kendaraan menuju Candi Ratu Boko terlebih dahulu, dan lokasinya cukup jauh. Tak disangka, Candi Ratu Boko ini kompleks sekali, membuat saya lebih banyak berkeliling dibanding diam di satu lokasi. Berada di tempat seluas itu, membuat saya merasa gerah dan panas.
Akhirnya, setelah kira-kira sejam di sana, akhirnya balik ke tempat Candi Prambanan, dan saya pun langsung mengeksplor sekitaran Candi Prambanan, tapi cuma di daerah candi, tidak sampai naik—karena diberi pembatas. Berkeliling di daerah candi, membuat saya kembali berpikir, "Inilah rasanya tiba di Prambanan!" Setelah hanya melihat Prambanan melalui Google, akhirnya saya bisa melihat Prambanan yang asli alias sesungguhnya!
Sehabis berkeliling di Prambanan, saya makan siang di Wedang Kopi Prambanan (?), dan makanannya enak semua, tidak bohong! Sudah enak, mantep pula. Saya sendiri sempat mencicipi bandrek dan jeruk hangat (?) di sana, dan rasanya juga enak. Setelah ke sana, saya menuju kawasan Keraton—atau Malioboro ya, saya lupa. Melihat tempat pembatikan juga. Akhirnya, bapak saya membeli sebuah lukisan batik. Cakep.
Habis dari sana, saatnya makan malem. Makan gudeg di Gudeg Sagan. Gudeg adalah makanan yang saya ingin cicip, sejak dari Karimun. Dan begitu tiba di sana, saya memakan gudeg itu, dan... Rasanya luar biasa! Ini agak berlebihan sih... hehe... Begitu makan beberapa suap, wah, kenyang perut saya. Tidak muat lagi untuk masuk sepotong ayam. Akhirnya, saya putuskan untuk memberikan ayam itu kepada adik saya.
Sehabis makan malam, saya berangkat ke Kaliurang, menghabiskan waktu malam di sana. Selamat malam, dari Kaliurang.
Bab 2: 2 Juli 2022
Hei, selamat pagi. Saya bangun, lalu mandi dan berpakaian. Setelah itu, berangkatlah ke restoran hotel (?) untuk sarapan. Dan saya lagi-lagi makan gudeg. Entah kenapa gudeg bagi saya itu terasa begitu super. Sehabis sarapan, saya pun berkemas dan menuju Borobudur. Lagi-lagi, tidak bisa naik ke atas candinya, karena diberi pembatas. Akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling di sekitaran Borobudur, sambil memotret beberapa foto untuk dijadikan kenangan.
Saya tidak ingat saya makan siang di mana (ternyata di Silol Cafe), tapi saya ingat di samping restoran itu ada motor Harley, dua biji di sana. Setelah makan, saya berencana kabur ke Gramedia untuk berburu beberapa buku. Di tengah berburu buku, saya menemukan buku Gie Seri Tempo—dengan judul lengkap "GIE dan Surat-Surat yang Tersembunyi". Begitu menemukan buku itu, saya bersorak, karena itu adalah buku yang saya kejar sejak membeli buku "Soe Hok-gie, Sekali Lagi".
Setelah membeli buku dan mencicipi "Chatime", saya pun segera berangkat untuk bertemu saudara (?), yang kemudian diajak makan malam. Setelah makan malam, saya segera menuju Stasiun Jogjakarta. Di tengah jalan sempat macet. Maklum, daerahnya cukup padat turis—saya rasa sih begitu.
Dibandingkan dengan Stasiun Gambir yang bertema modern, Stasiun Jogjakarta ini lebih terkesan mempertahankan model jadulnya. Bahkan saat saya akan masuk ke ruang tunggu, ada sekelompok orang yang sedang memainkan musik, beserta penyanyinya. Sungguh pemandangan yang unik.
Ah, kereta sudah tiba. Ini saatnya melesat balik ke Jakarta, si Metropolitan yang penuh gemerlap. Kereta akan segera melaju, jadi, ini saatnya saya kembali ke dunia mimpi. Selamat malam!
Epilog: tak terasa sudah tiba di akhir cerita. Setelah tulisan ini, akan saya sertakan beberapa foto perjalanan saya selama di Jogja.
Galeri Perjalanan (beserta lokasi):
1. Sego Pecel Bu Wiryo, Yogyakarta
2. Gedung Fisip UGM (?), Yogyakarta
3. Universitas Atma Jaya, Yogyakarta
4. Candi Ratu Boko (?),Yogyakarta
5. Candi Prambanan, Yogyakarta
6. Borobudur, Yogyakarta
7. Stasiun Jogjakarta
Komentar
Posting Komentar