Jangankan Jawa, Jadi Orang Tionghoa Saja Tak Mampu

Dalam perjalanan menuju Jakarta bersama teman-teman dari Pemuda Agama Khonghucu Indonesia (PAKIN) Solo, saya selalu menemukan diri saya terisolasi. Bukan bermaksud bahwa mereka mengucilkan diri saya, akan tetapi saya merasa waktu saya banyak terbuang sia-sia.

Sedari semester satu di perkuliahan, tak henti-hentinya kedua orang tua saya selalu menancapkan sebuah petuah yang saya ingat hingga sekarang: "Kamu kudu belajar bahasa Mandarin, Ko*. Penting itu." (*Ko/Koko artinya Abang laki-laki dalam bahasa Tiociu) Kendati saya keturunan Tiociu, saya tak menyangkal bahwa saya tak begitu mahir berbahasa Tiociu, sebab saya terlalu mendalami bahasa Indonesia—yang bukan alasan sebenarnya; saya hanya tak mau bicara Tiociu karena termakan omongan Soe Hok-gie yang ingin menjadi Manusia Indonesia yang sebenarnya; saya menanggalkan segala hal berbau Melayu dan Tionghoa sebisa mungkin—tapi tak mungkin bisa lepas dari ke-cinaan saya. Pada akhirnya saya hanyalah orang Indonesia (yang berbeda karena punya keturunan Tionghoa, padahal saya bahasa Tiociu saja tak pandai, apalagi Mandarin?).

Sifat itu kemudian membentuk saya. Saya menjadi pribadi yang jauh lebih senang berteman dengan teman-teman (yang mereka sebut) huana—dan menurut saya itu rasis!—dan jadilah saya lulus bahasa Indonesia sementara bahasa Mandarin saya tak benar-benar mau hidup. Sebenarnya, saya bisa menulis (secara digital, sebab kalau tulis tangan, saya cuma bisa nulis nama sendiri), hanya saja banyak keterbatasan dalam grammar dan kosakata. Saya punya teori sendiri, bahwa mendengarkan musik akan banyak membantu dalam segi bahasa. Sialnya, hanya berlaku pada bahasa Inggris, sementara bahasa Mandarin gagal total. Ya... ada-lah nyantol sedikit, tetapi tidak sepenuh berhasil, sayangnya.

Lalu? Apakah hubungan bahasa Mandarin dengan teman-teman PAKIN Solo? Saya pikir sedikit banyaknya (anjay gayanya Ginda Bestari) ada hubungannya. Mereka ada sejenis program belajar bahasa Mandarin (?) dan saya pikir mereka yang tinggal di Jawa jauh lebih jago daripada saya yang ada di Kepulauan Riau, yang notabene-nya saya mestinya jauh lebih ngerti dan paham bahasa Mandarin. Gagal total!

Mesk bukan yang benar-benar fasih, saya tetap saja merasa terasingkan. Terutama ketika mereka mulai berbicara dengan bahasa Jawa. Pertama-tama sekali ketika saya berkuliah, impian saya adalah bisa bahasa Jawa. Tiga tahun terlewati dan saya belum bisa bahasa Jawa sama sekali, kecuali kosakata dan kata-kata kasarnya yang tidak boleh dipakai sama sekali di kehidupan sehari-hari. Itu dia, persoalan waktu. Entah sampai kapan saya akan kapok.

Soal bahasa, emak saya memuji bahwa hafalan saya bagus. Beliau bilang saya berpotensi untuk belajar bahasa baru, hitung-hitung nambah skill sehingga saya bisa dapat kerjaan bagus di saat lulus nanti. Entahlah ya, saya merasa ada saja alasan untuk bilang tidak, padahal tinggal bilang "iya, saya coba ya" apa susahnya?

Sekarang, saya masih merasa teralienasi dari teman-teman PAKIN Solo karena kendala bahasa. Apakah saya akan belajar bahasa Jawa? Mungkin. Selain untuk PDKT, bisa juga buat nambah kosakata.
—————
(Setelah sekian banyak kata "sebenarnya", ini alasan aslinya saya menulis judul kontroversial...?) 

Saya menemukan diri saya berbeda banyak dengan teman-teman saya ketika saya duduk di kelas 8 (kelas 2 SMP), di mana saya banyak membaca, dan salah satunya Edensor karya Andrea Hirata (yang saya hibahkan ke teman saya, sayang sekali!), dan Da Vinci Code karya Dan Brown (yang dipinjamkan bapak kepada saya). 

Keduanya berbahasa Indonesia. 

Kemudian, suatu waktu ketika mampir ke Batam, saya dikenalkan bapak saya pada Soe Hok-gie, dan jadilah saya membeli sebuah buku bertajuk "Soe Hok-gie ...Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya". Buku itu sukses menyihir saya, membuat saya melayangkan dua buah tulisan ke story Instagram; tulisan pertama bertajuk bobroknya OSIS semasa itu karena saya anggap tidak berani mengambil tindakan untuk menyelamatkan korban bully, dan yang kedua soal pelaku bullying. Lalu, seorang adik kelas menegur saya bahwa "jika tak ingin terjadi demikian, jangan berbuat demikian". Tumbuhlah perasaan aneh: mengapa saya harus diam diri saja, sementara saya sendiri tidak berbuat apa-apa saja menjadi korban?

Kemudian, dua tulisan itu saya takedown, meski masih ada di arsip Instagram saya. Saya baca-baca lagi, terlalu banyak pengulangan, jelek sekali. Bahkan, tak bisa disebut kritik. Saya sadar bahwa saya tak bakar menulis. 

Oh, sebentar, kenapa bahas soal tulisan? Sepertinya karena tulisan merupakan bagian dari bahasa?

Well, trigger utamanya muncul dari buku Soe Hok-gie yang saya baca. Karena itu saya mulai mengurangi berbicara bahasa Tiociu, tak ingin kenal bahasa Mandarin, dan mendalami berbicara dengan gaya formal/menulis baku dalam Bahasa Indonesia. Pengaruhnya terasa hingga sekarang.

Saya mulai merasa punya krisis identitas dalam diri sendiri. Saya tak pandai bahasa ibu, atau bahasa Jawa yang semestinya saya tekuni selama berada di Yogyakarta. 

Time flies, dan saya merasa saya hanya orang Indonesia pada umumnya. Sayang sekali, saya bahkan tak bisa jadi orang Tionghoa, apalagi orang (Tionghoa yang berbahasa) Jawa.







Komentar